Tampilkan postingan dengan label media ekspresi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label media ekspresi. Tampilkan semua postingan

Senin, 24 Februari 2014

Perjalan Menuju Bali

Semakin menemukan titik cerah diantara gumpalan kabut hitam yang membentang luas.~ Mugi lancar sedayanipun. ~ Cesc_AS

#Surabaya, 20-01-2014

Langit Bermuram Durja

Tak bosan-kah kau tampakkan selalu raut muka yang bermuram durja itu, sungguh lebih indah jika kau tunjukkan semburat sinar dari sang surya. ini tidaklah keluh kesah dalam diri, melainkan sebuah harapan.... (wahai langit). ~ Cesc_AS 

#Bandungrejo, Kalinyamatan, Jepara "30-01-2014"

SECANGKIR COKELAT


Secangkir cokelat itu memanglah nikmat kata orang. Akan tetapi pada dasarnya cokelat memanglah pahit. Untuk itu dengan sedikit tambahan gula, rasa itu berubah menjadi manis. Rasa yang memberikan kenikmatan tersendiri bagi penikmat coklat.
Panas Cokelat dalam cangkir memanglah menggoda. Dengan diseduh, coklat itu mampu memberikan dua rasa yang menjadi satu, yaitu pahit dan manis. Secangkir cokelat juga bisa menenangkan lewat aroma dan rasanya. ~"Secangkir cokelat yang memberi kehangatan dan kenyamanan".
_"Cesc_AS,D'first"

Minggu, 23 Februari 2014

BIOLA TAK BERTUAN

Kini lantunan nada merdu nan indah itu entah kemana.
yang dulunya terdengar setiap senja datang, kini tak lagi terdengar.
mungkin lantunan itu sudah menjadi hal yang tabu sekarang ini.
dalam benak pun bertanya-tanya
adakah seorang yang akan menyentuh dan melantunkan suara indah biola itu?
perlahan biola itu menjadi usang dan hanya jadi pemanis yang tak berdaya dalam gudang.
Semua karena biola yang malang itu sudah menjadi biola tak bertuan.

Created by Cesc A.S (Anzar Subagas)

BEDUGUL, AKU PUNYA CERITA


Mendengar Pulau Bali tentunya kita sudah membayangkan hamparan luas sejuta keindahan yang ada dalam pikiran. Entah itu keindahan laut dan pantainya, perbukitan, dan juga danaunya. Karena di pulau ini kita akan mendapatkan pemandangan yang tak-kan bisa terlepas akan kedipan mata walaupun hanya sesaat.
Salah satu tempat wisata yang menawarkan akan keindahan khas alam nan hijau yaitu Bedugul. Tempatnya berada di atas bukit dan terletak pada ketinggian kurang lebih 1249 m dari permukaan laut tentunya menyuguhkan hawa dingin khas pegunungan, pepohonan nan hijau, serta air jernih khas danau. Di tengah danau ini terdapat sebuah Pura yaitu Pura Ulun Danu. Dari informasi penduduk setempat, Pura ini adalah tempat pemujaan kepada Sang Hyang Dewi Danu yang konon katanya sebagai pemberi kesuburan. Hal itu tak dapat dipungkiri karena pulau Bali adalah pulau Seribu Dewa yang masih kental akan agama dan kebudayaannya berjalan selaras dan berketerkaitan.
Tepatnya empat tahun yang lalu, ketika berkunjung suasana khas itu terasa sejuk dan damai. Diiringi rintikan gerimis menambah hawa dingin suasana tercipta. Sungguh baru kutemui keindahan alam yang seperti itu. Lelah perjalanan dalam bis pun tak terasa dan sudah terbayar akan pemandangan dan suasana nan sejuk dan damai. Empat tahun-pun berlalu dan kembali (lagi) ke tempat itu dengan rombongan yang berbeda pula tentunya. Dan apa yang terpikir olehku?. Semua tak berubah akan kesejukan dan kehijauannya, bahkan lebih indah dari sebelumnya. Itulah yang terbesit dalam hati ketika menghirup udara segar dan memandang hamparan luas danau itu.
Sebuah cerita yang berbeda ketika dulu tak bisa menikmati keindahan itu karena tidak menepi ke pinggir danau. Hujan yang turun waktu membuat kami Cuma bisa menikmati keindahan dari kejauhan saja, tidak seperti saat kemarin bulan Januari berkunjung dengan rombongan yang berbeda. Turun dari bis akupun bergegas menuju lokasi utama bersama teman-teman. Badan yang demam, hidung habis bekas mimisa, dan kepala yang sedikit pusing-pun tak menyurutkan semangat untuk berjalan menuju ke tempat itu. Sampai di lokasi, aku-pun merasa tercengang memandang hamparan luas air yang tenang dan menghirup udara yang segar khas daerah perbukitan. Sungguh semua tampak lebih indah dari sebelumnya (dalam hati ku berkata dan bersyukur kepada-Nya).
Saat menepi dan duduk didinding tepian danau terasa lebih dekat dengan alam. Alam yang memberikan sumber kehidupan, alam yang memberikan keindahan, dan alam yang merupakan wujud atas kekuasaan-Nya yang tak diragukan lagi. Wajah-wajah sumringah tak luput dari pandangan setiap orang yang ada di situ. Keindahan alam khas Bedugul yang sungguh dan sungguh sangat istimewa.

Cesc_AS 
Rabu, 12 Februari 2014

Sabtu, 22 Februari 2014

Sejuta Keindahan "Sikunir"

Image
Tepat pukul 03.00 WIB dini hari, 3 Februari 2013. 10 remaja (Aji, Bayu, Yongki, Alam, Bagas, Tyas, Wulan, Mentari, Tere, Iis) dan seorang bapak yang bernama Pak Marno berangkat dari rumah menuju desa tertinggi yang ada di pulau Jawa, yaitu desa Sembungan. Hawa dingin yang menyelimuti udara dini hari itu tak menyurutkan semangat mereka yang sudah merencanakan di malam sebelumnya untuk melihat sunrise di Sikunir. Sebelumnya kami merencanakan berangkat jam 02.00 WIB, karena Bapak Marno mengatakan jarak rumah sampai ke tempat tujuan cukup jauh, dan memakan waktu kurang lebih 2 jam. Tetapi rencana itu tak sesuai harapan karena kami bangun telat. Hal itu tidak menyurutkan semangat kami, dan bergegas untuk berangkat.
Di perjalanan, hawa dingin itu sangat terasa menyelimuti tubuh kami, khususnya kami yang tak terbiasa dengan hawa pegunungan, karena tempat tinggal kami di daerah pesisiran ataupun perkotaan. Pak Marno sebagai pemandu jalan begitu gagah mengendarai motor memimpin rombongan. Kami begitu yakin mengikuti dari belakang secara beriringan. Dalam perjalanan kami sempat salah jalan karena Pak Marno lupa, beliau mengatakan sudah lama tidak berkunjung ke sana. Kami berhenti sejenak dan Pak Marno menelfon temannya diwaktu dini hari, yang secara etika tidak baik. Tetapi setelah mencoba menelfon akhirnya diterima telfon dari Pak Marno dan kami mendapat jalan terang untuk melanjutkan perjalanan.
Pada awalnya kami mengira akan terlambat untuk menyaksikan sunrise karena kami bangun terlambat. Akan tetapi bapak yang menjadi pemandu di depan sangatlah bersemangat dan cukup kencang mengendaria mengejar sang waktu agar cepat sampai dan bisa menyaksikan keindahan dari-Nya yang sungguh luar biasa. Kami sebagai anak muda tak mau kalah dan mengendarai motor dengan kencang di belakang beliau. Meskipun udara dingin menjadi musuh kami, yang menjadikan badan terasa kaku, tentulah tidak menjadi penghambat semangat kami.
Sampai di area penitipan motor tepat pukul 04.45 WIB. Waktu yang menunjukkan untuk sholat subuh. Air di sana tak ada untuk dapat digunakan wudhlu. Ada seorang pedagang yang baik hati menawarkan air secukupnya untuk berwudhu. Akan tetapi dari beberapa dari kami memilih untuk tayammum sebab tak kuat untuk terkena air karena sangat dingin cuacanya. Setelah sholat selesai kami pun bergegas untuk melakukan perjalanan dengan berjalan kaki. Berjalan menapaki jalan setapak menuju puncak Sikunir yang jaraknya lumayan berliku dan cukup menantang adrenalin kami.
Image
Jalan yang berliku, licin, dan terjal telah kami lalui bersama dan itu terbayar sudah ketika sampai di puncak Sikunir. Sangatlah terkejut karena sudah banyak orang yang sampai duluan di puncak tersebut. Mereka juga melakukan perjalanan dengan penuh perjuangan untuk bisa melihat sunrise dari atas puncak Sikunir. Sampai di atas puncak tepat pukul 05.15 WIB, dan sunrise-pun belum menampakkan keelokannya. Waktu yang kami nanti-nanti telah tiba, sunrise menampakkan semburat cahaya merah keemasan yang membuat kami sangat senang dan puas dengan apa yang kami lakukan untuk sampai di puncak tersebut.
Keindahan yang menunjukkan kekuasaan Tuhan begitu sungguh istimewa. Sangatlah bersyukur bisa menyaksikan kekuasaan-Nya. Keindahan yang teristimewa itu tak pernah berbohong, sungguh mengagumkan. Perjalan yang tak akan pernah terlupakan dalam memori. Awal mula perjalanan yang panjang bersama kawan-kawan tercinta. Terimakasih kawan semua dan terima kasih kepada Pak Marno beserta keluarga.  _ “Cesc_AS”